Pages

Kamis, 05 Mei 2011

RESENSI


BAB I
PENDAHULUAN
1.1           Latar Belakang Masalah
Sebagai seorang mahasiswa kita sering mendengar kata “RESENSI”, pada kesempatan kali ini kita akan mengenal lebih jauh apa yang dimaksud engan “RESENSI”. Dalam membuat resensi, baik resensi buku/film ada beberapa aspek yang harus di perhatikan yang mana aspek ini sangat mempengaruhi isi resensi tersebut.
Resensi juga sangat penting untuk kita pelajari bahkan lebih dari itu, kita juga di paksa untuk memahaminya khususnya untuk kita melihat satu kwalitas buku. Melalui resensi juga kita bisa melihat kekurangan dan juga kelebihan isi buku. Dalam membuat Karya Tulis Ilmiah (KTI) resensi juga sangat berperan penting didalamnya untuk menjadikan hasil yang lengkap.
1.2     Pengenalan Resensi
                                         Resensi? Apakah itu? Bagaimana ya cara menulisnya, gampang nggak sih? Secara etimologis, kata resensi berasal dari bahasa Latin, yaitu dari kata kerja revidere atau recensere. Kedua kata tersebut berarti melihat kembali, menimbang, atau menilai. Dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah recensie dan dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah review. Berbagai istilah tersebut mengacu kepada hal yang sama yaitu mengulas sebuah buku. Kamus Umum Bahasa Indonesia mengartikan resensi sebagai ”Pertim-bangan atau pembicaraan buku, ulasan buku”Gorys Keraf mendefinisikan resensi sebagai ”Suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya atau buku” (Keraf, 2001 : 274). Dari pengertian tersebut muncul istilah lain dari kata resensi yaitu kata pertimbangan buku, pembicaraan buku, dan ulasan buku. Intinya membahas tentang isi sebuah buku baik berupa fiksi maupun nonfiksi. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut penulis menyimpulkan bahwa resensi adalah tulisan ilmiah yang membahas isi sebuah buku, kelemahan, dan keunggulannya untuk diberitahukan kepada masyarakat pembaca.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1     Sistematika Resensi
Sistematika resensi atau bagian-bagian resensi dikenal juga dengan istilah unsur resensi. Unsur yang membangun sebuah resensi menurut Samad (1997 : 7-8) adalah sebagai berikut: (1) judul resensi; (2) data buku; (3) pembukaan; (4) tubuh resensi; dan (5) penutup. Penjelasan tentang bagian-bagian tersebut penulis kemukakan berikut ini.
a.    Judul Resensi
Judul resensi harus menggambarkan isi resensi. Penulisan judul resensi harus jelas, singkat, dan tidak menimbulkan kesalahan penafsiran. Judul resensi juga harus menarik sehingga menimbulkan minat membaca bagi calon pembaca. Sebab awal keinginan membaca seseorang didahului dengan melihat judul tulisan. Jika judulnya menarik maka orang akan membaca tulisannya. Sebaliknya, jika judul tidak menarik maka tidak akan dibaca. Namun perlu diingat bahwa judul yang menarik pun harus sesuai dengan isinya. Artinya, jangan sampai hanya menulis judulnya saja yang menarik, sedangkan isi tulisannya tidak sesuai, maka tentu saja hal ini akan mengecewakan pembaca.
b.   Data Buku
Secara umum ada dua cara penulisan data buku yang biasa ditemukan dalam penulisan resensi di media cetak antara lain:
1.        Judul buku, pengarang (editor, penyunting, penerjemah, atau kata pengantar), penerbit, tahun terbit, tebal buku, dan harga buku.
2.        Pengarang (editor, penyunting, penerjemah, atau kata pengantar, penerbit, tahun terbit, tebal buku, dan harga buku.
c.   Pendahuluan
Bagian pendahuluan dapat dimulai dengan memaparkan tentang pengarang buku, seperti namanya, atau prestasinya. Ada juga resensi novel yang pada bagian pendahuluan ini memperkenalkan secara garis besar apa isi buku novel tersebut. Dapat pula diberikan berupa sinopsis novel tersebut.
d.  Tubuh Resensi
Pada bagian tubuh resensi ini penulis resensi (peresensi) boleh mengawali dengan sinopsis novel. Biasanya yang dikemukakan pokok isi novel secara ringkas. Tujuan penulisan sinopsis pada bagian ini adalah untuk memberi gambaran secara global tentang apa yang ingin disampaikan dalam tubuh resensi. Jika sinopsisnya telah diperkenalkan peresensi selanjutnya mengemukakan kelebihan dan kekurangan isi novel tersebut ditinjau dari berbagai sudut pandang—tergantung kepada kepekaan peresensi.
e.   Penutup
Bagian akhir resensi biasanya diakhiri dengan sasaran yang dituju oleh buku itu. Kemudian diberikan penjelasan juga apakah memang buku itu cocok dibaca oleh sasaran yang ingin dituju oleh pengarang atau tidak. Berikan pula alasan-alasan yang logis.
2.2         Tips Meresensi Buku
Berikut tips menulis resensi buku (cuma intinya):
1.        Bahas intisari buku tsb secara singkat. Kalau bisa, bandingkan dengan buku sejenis.
2.        Tonjolkan beberapa bab yang dianggap sangat penting dicermati, juga secara singkat.
3.        Jelaskan sedikit tentang diri/identitas penulisnya, kelebihannya apa, latar belakangnya bagaimana, dsb.
4.        Berikan penilaian tentang manfaat buku tersebut. Nilai juga cara penulisannya dan gaya bahasanya.
5.        Ada kelebihan lain atau tidak, misalnya bagian pengantar dari ahli itu, indeks, footnote, kepustakaan, dsb.
6.        Kalau mau dikirim ke media, jangan lebih dari 2 halaman komputer. Tambahi juga dengan scanning kavernya (jangan fotokopi, harus asli).
2.3         Contoh Resensi Buku
Judul Buku: The Missing
Pengarang: Chris Mooney
Penerbit: Dastan Books, Cetakan I Mei 2008
Tebal: 484 halaman
Novel ini bercerita tentang dua orang psikopat yang bekerja sama menculik para wanita selama puluhan tahun. Tak ada pola tertentu dalam modus penculikannya. Wanita dari berbagai latar belakang keluarga dan pekerjaan, mulai dari ibu rumah tangga, pekerja seks, sampai dengan remaja usia belasan, tak luput dari incaran sipelaku. Dua psikopat ini dengan cerdiknya meninggalkan barang bukti palsu di TKP, yang akhirnya mengarahkan polisi untuk menangkap orang yang tidak bersalah.
Selama dua dasawarsa mereka luput dari incaran polisi dan bebas melakukan aksinya. Mereka menyekap para korbannya di dalam sel tahanan bawah tanah yang sempit dan gelap. Dua pria ini menguras fisik dan batin wanita-wanita itu dengan membuat semacam labirin di antara sel tahanan dengan gerbang kebebasan mereka. Mereka akan berusaha keluar dari labirin, namun tak berhasil karena fisik mereka sudah terlalu lelah. Bahkan tak jarang kematian yang mereka dapatkan. Namun salah satu korban, Rachel, berhasil melewati labirin itu dan menemukan ruangan yang digunakan pelaku untuk menyimpan dokumen tentang korban-korbannya. Di ruangan itu Rachel mengambil sebuah peta tempat para penculik itu mengubur korban yang telah mereka bunuh.
Dengan menggunakan taktik, akhirnya Rachel berhasil lolos saat si pelaku meninggalkannya di dalam van untuk menculik Carol. Lalu dia bersembunyi di bawah seram di rumah sikorban.Darby, seorang penyelidik TKP berusia 35 tahun, masih saja tidak bisa menghilangkan rasa bersalahnya selama 23 tahun ini. Waktu itu dia bersama dua orang sahabatnya, Mel dan Stacey, memergoki seseorang yang hendak membunuh seorang wanita di hutan. Lalu saat sang pelaku berusaha menculik Darby di rumahnya, ternyata Mel dan Stacey datang berkunjung. Demi menyelamatkan nyawanya, Darby menguatkan hati untuk mengacuhkan Mel yang disandera si pelaku. Maka selama 23 tahun ini, bayangan Stacey yang bersimbah darah di lantai rumahnya dan Mel yang memohon padanya untuk menyerah masih menghantuinya. Hari itu Darby ditugaskan untuk menyelidiki TKP penculikan Carol, seorang siswi SMU.
Insting membawanya menuju ruangan di bawah serambi rumah itu, dan dia menemukan Rachel yang begitu garang menyerang semua orang untuk membela diri setelah bertahun-tahun terkurung dalam sel tahanan si penculik. Darby berhasil membujuk Rachel dan membawanya ke rumah sakit. Setelah kondisinya mulai membaik, Darby meminta keterangan dari Rachel. Berbekal keterangan dan peta yang dibawa si korban, Darby bersikeras memecahkan kasus penculikan dan menemukan Carol walau mempertaruhkan karirnya saat kasus ini diambil alih FBI. Dia pun menemukan fakta bahwa selama ini polisi telah terjebak dan menangkap orang yang tidak bersalah.
Setelah berhasil menemukan pelakunya, ternyata masih ada pelaku yang satu lagi. Darby-pun terjebak dan dikurung dalam sel tahanan itu. Seperti novel misteri lainnya, ada beberapa kejutan tak terduga dari Mooney mengenai siapa pelaku kedua dan siapa yang menjadi ikut terlibat dalam kasus penculikan selama 23 tahun ini.Terasa ada yang kurang pada novel ini, yaitu latar belakang mengapa kedua pelaku ini menjadi psikopat. Selain itu kepuasan yang didapat para pelaku setelah menculik ataupun membunuh korbannya juga tidak jelas. Biasanya psikopat akan mendapatkan kepuasan tersendiri setelah berhasil melakukan aksinya.
Dalam novel telah diceritakan bahwa pelaku pertama (Daniel) adalah hasil perkosaan ibunya dengan kakeknya yang menyebabkan sang ibu tidak bisa menyayangi Daniel sebagai anaknya sehingga melahirkan dendam di hati si anak pada kaum wanita.Tetapi mengapa dia menculik para korbannya tanpa ada pola? Memang hal itu bisa saja bertujuan untuk membingungkan polisi dalam investigasi. Namun biasanya psikopat hanya akan tumbuh bencinya bila melihat sesuatu/seseorang yang mengingatkannya pada rasa benci, marah ataupun sakit hatinya.
Lalu untuk pelaku kedua (Richard) hanya diceritakan bahwa dia hampir membunuh ibunya sewaktu kecil. Tindakannya tentu saja mempunyai alasan dan latar belakang, namun dalam novel tidak jelas.Meskipun demikian, novel ini tetap menarik untuk dibaca karena alur cerita yang disertai alur pikir si pelaku akan menimbulkan rasa penasaran Anda. Bagi Anda penggemar novel detektif, anda bisa menguji naluri investigasi anda dan takkan beranjak sebelum pelakunya tertangkap.

2.4         Contoh Resensi Film
Resensi film: SANG PENCERAH
Kisah Perjuangan Pendiri Muhammadiyah
http://www.fajar.co.id/photohead/1284826763FOTO%20Resensi%20film%20PENCERAHkk.jpg

















Jenis film: Drama. Sutradara: Hanung Bramantyo. Penulis: Hanung Bramantyo. Pemain: Lukman Sardi, Slamet Rahardjo, Zaskia Adya Mecca, Giring, Ihsan Idol, Ikranegara, Yatti Surachman, Joshua Suherman.

KISAH ini diawali lahirnya seorang bayi laki-laki di Kauman, bernama Darwis. Berangkat remaja ia banyak melihat tradisi sesajen berbaur agama Islam yang menurutnya dapat menyesatkan, Ia berangkat ke tanah suci di usia 15 tahun. Sepulang dari Mekah, Darwis mengubah namanya menjadi Ahmad Dahlan. Seorang pemuda usia 21 tahun yang gelisah atas pelaksanaan syariat Islam yang melenceng kearah Bidah. Karenanya, Islam dipandang sebagai agama mistik dan tahayul oleh kalangan Eropa (Belanda) dan kaum modern. Melalui suraunya Ahmad Dahlan membuka sekolah yang menyadarkan bahwa Islam tidak hanya berkutat soal tauhid, tetapi juga mampu memperbaiki kesejahteraan masyarakat melaluipendidikan. Bagi Ahmad Dahlan kemiskinan disebabkan karena kebodohan.

Berangkat dari gagasan itulah maka laki-laki putra Khatib Masjid Besar Kauman itu memulai kiprahnya. Diawali dengan mengubah arah kiblat yang salah di Masjid Besar Kauman yang mengakibatkan kemarahan para kyai fanatik. Surau atau Langgar Kidoel Ahmad Dahlan dirobohkan karena dianggap mengajarkan aliran sesat. Ahmad Dahlan juga di tuduh sebagai kyai kafir hanya karena membuka sekolah yang menempatkan muridnya duduk di kursi seperti sekolah modern Belanda. Ahmad Dahlan juga dituduh sebagai kyai Kejawen hanya karena dekat dengan lingkungan cendekiawan Jawa di Budi Utomo. Tapi tuduhan tersebut tidak membuat pemuda Kaum wanitu surut.

Didampingi isteri tercinta, Siti Walidah, dan 5 murid-murid setianya yakni Sudja, Fahrudin, Hisyam, Syarkawi, dan Abdulgani, Dahlan membentuk organisasi Muhammadiyah dengan tujuan mendidik umat Islam agar berpikiran maju sesuai dengan perkembangan zaman. Peran Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah dimainkan apik oleh Lukman Sardi dan Zaskia Adya Mecca. Detail emosi dibangun secara detail dan manusiawi oleh Hanung. Dalam kesabarannya, Ahmad Dahlan digambarkan putus asa, marah, dan sedih hingga menangis. Adegan ini serta merta bisa membuat penonton meleleh. Sederet bintang remaja seperti Joshua, Ricky Perdana, Mario Irwinsyah, Dennis Adishwara) dan Abdurrahman Arif) yang berperan sebagai murid Ahmad Dahlan. Anda juga bisa menyaksikan peran Giring 'Nidji' yang boleh dikata cukup sebagai artis pendukung.

 
BAB III
Kesimpulan
        Resensi berasal dari kata resensie (bahasa Belanda). Kata resensie berasal dari kata recensere (bahasa Latin), yang memiliki arti memberi penilaian. Resensi dapat pula berasal dari kata review (bahasa Inggris), yang memiliki arti lebih luas, yaitu mengupas isi buku, seni lukis, pertunjukan, musik, film, drama, dan sebagainya.
Resensi dibuat oleh seorang resensator. Resensi dibuat untuk memberi penilaian atas suatu buku, film, atau karya seni yang lain untuk memberitahu orang lain apakah hal yang diresensi tersebut layak atau tidak untuk dibaca, ditonton, atau didengar, dll.
Resensi bersifat informatif, tidak berisi suatu kritikan yang mendalam atau penilaian tentang bermutu atau tidaknya suatu karya cipta tertentu. Meskipun bersifat informatif resensi juga bukan iklan tentang buku baru.    


0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More